Home » » Baduy Masyarakat Adat Kabupaten Lebak

Baduy Masyarakat Adat Kabupaten Lebak

Bagi Masyarakat Lebak, Kata Baduy bukanlah hal yang asing terdengar di telinga. Tetapi untuk masyarakat luar mungkin bertanya-tanya apakah Baduy itu, sama kah dengan Badui? tentu saja beda mas boy... Kalau baduy itu adalah ada di Indonesia kalau Badui atau disebut juga Badwi ada di Saudi Arabia, merupakan Suku Pengembara (hanya itu saja yang saya ketahui tentang Suku Badui, Selebihnya silahkan cari di Google . Nah untuk lebih jelasnya saya atau juga dipanggil dengan Nama Hedi sedikitnya akan menjelaskan tentang masyarakat Baduy ini yang sangat Geger di Kalangan pemerhati BUDAYA sebagai Bukti Eksistensi Masyarakat Sunda

Masyarakat Baduy yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Kontak mereka dengan dunia luar telah terjadi sejak abad 16 Masehi, yaitu dengan Kesultanan Banten. Sejak saat itu berlangsunglah tradisi seba sebagai puncak pesta panen dan menghormati kerabat non Baduy yang tinggal di luar Kanekes. Bagi Kesultanan Banten tradisi Seba tersebut diartikan sebagai tunduknya orang Baduy terhadap pemerintahan Kerajaan setempat (Garna,1993). Sampai sekarang upacara Seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten. Di bidang pertanian penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat lain yang bukan Baduy, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh. Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Baduy menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Baduy terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.
Hedi

Disamping itu, orang Baduy di Kanekes, sejak para karuhun memiliki syair-syair atau pantun-pantun. Adapun syair ataupun pantun tersebut menggunakan bahasa yang dipergunakan sebagai media utama dalam lisan sehari-hari Baduy tapi mengandung pituah, perintah, adalah Bahasa Sunda dialek Baduy yang telah meninggalkan Kanekes beserta segala pranata masyarakatnya. Dalam hal ini seperti adat kepercayaan, kebiasaan, yang bertumpu pada akar keklasikan serta banyaknya kata-kata dan untaian kalimat Sunda Kuno. Dikalangan masyarakat Baduy Kanekes, unsur Sunda Kuno itu lebih banyak dibanding yang terdapat dikalangan masyarakat Sunda luar Kanekes. Hal itu dikarenakan sangat gugon tuhonnya mereka memelihara peninggalan karuhun termasuk didalamnya bahasa. Hal itu ditopang pula oleh sangat jarangnya persentuhan mereka dengan budaya luar. Terutama di Tangtu Telu, Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Karenanya, merekapun sangat tidak mengenal undak usuk basa. Bagi orang Tangtu undak usuk basa sangat asing. Contoh, untuk orang pertama dengan siapapun mereka berbicara mempergunakan sebutan AING (dalam Bahasa Indonesia "SAYA", untuk orang kedua dipergunakan sebuatan SIA (Bahasa Indonesia "KAMU". Orang Baduy Kanekes, sangat demokratis dalam berbahasa.
Tah Mung sakitu ti Sim Kuring. Mugia aya manfaat na... Salam wae ka urang lembur nyah

0 comments:

Post a Comment

Malu Bertanya Sesat di Jalan