Pengajaran Karya Sastra Puisi Romansa

May 19, 2013
Dalam pengajaran, karya sastra merupakan bagian dari bahasa Indonesia yang harus disajikan secara terpadu dan memperoleh perbandingan bobot pembelajaran yang berimbang. Dalam kaitan ini, Supyadi, dkk (1995:4) menjelaskan bahwa perbandingan bobot pembelajaran bahasa dan sastra sebaiknya seimbang dan dapat disajikan secara terpadu, misalnya bacaan sastra dapat sekaligus dipakai sebagai bahan pembelajaran bahasa.

Perlu disadari bahwa belajar sastra umumnya sangat sulit. Penyebab rendahnya hasil belajar siswa tidak terlepas dari faktor-faktor yang paling penting yaitu faktor siswa sebagai subjek didik dan faktor guru sebagai pendidik. Sumber penyebab rendahnya hasil belajar yang mungkin terdapat pada diri siswa diantaranya adalah siswa belum mencapai taraf kesiapan untuk belajar di sekolah, kecerdasan dan bakat siswa, sedangkan faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa yang mungkin terletak pada faktor guru diantaranya adalah kemampuan (kompetensi), suasana dan kepribadian guru sebagai manusia model. Faktor lain yang ada di luar kemampuan murid maupun guru, yaitu kondisi masyarakat (Rusefendi: 1988:8).

Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya, baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat. Dalam hal ini khususnya seorang guru harus berusaha untuk meningkatkan diri dalam keterampilan serta kemampuan penguasaan materi pelajaran agar dapat melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar secara efektif dan efesien. Selain itu juga pengetahuan guru dalam bidang studinya harus luas. Tidak terlepas pula orang tua siswa diharapkan dapat membantu putra-putrinya dalam belajar di rumah.

Berkenaan dengan kesusastraan, puisi merupakan salah satu jenis karya sastra. Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Senada dengan hal itu, sumber yang dikutip dari http://forum.wgaul.com, para ahli memiliki pandangan yang berbeda tentang fungsi puisi. Menurut Matthew Arnold puisi merupakan keistimewaan tersendiri, ia memberikan sumbangan kepada perbendaharaan pengalaman atau pengetahuan manusia. Menurut Aristoteles puisi yang bersifat tragis berupaya membersihkan kerohanian manusia melalui rasa simpati atau belas kasihan. Menurut Shelley puisi memperkuat organ moral manusia sama seperti pendidikan jasmani yang memperkuat urat-urat dalam badan, dan puisi juga bisa membawa kita untuk melihat apa yang kita tidak pernah kita lihat, untuk mendengar apa yang tak pernah kita dengar. Menurut Shahnon Ahmad puisi adalah untuk menyemarakkan kesadaran. Umtuk memanusiakan kembali manusia itu, meninggikan budi pekerti, membentuk perwatakan dan juga membangkitkan semangat untuk bertindak.

Puisi romansa merupakan salah satu jenis puisi yang bercerita tentang keindahan percintaan anak manusia. Puisi romansa ini biasanya lebih mengutamakan keindahan kata-kata yang didasarkan pada penggunaan majas dan diksi. Di dalamnya mengandung kata-kata yang bersifat persuasif (membujuk, merayu, serta menghimbau) kepada pembaca untuk ikut meresapi perasaan cinta dan kasih sayang sang pengarang. Untuk dapat memahami puisi romansa tersebut, dibutuhkan pemahaman diksi dan majas serta pembendaharaan kosa kata, baik bagi penyair maupun pembaca.

Berkenaan dengan pembelajaran puisi di sekolah, perlu diterapkan metode pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk berbuat, berlaku, dan bertindak. Hal ini diungkapkan oleh Rahmanto (1988:26), bahwa “pengajaran sastra akan berlangsung dengan baik apabila guru dapat memperhatikan aspek-aspek yang menjadi patokan dalam memilih bahan pengajaran, yaitu bahasa, kematangan jiwa, (psikologi), dan latar kebudayaan siswa.
Berkenaan dengan pembelajaran puisi di sekolah, perlu diterapkan metode pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk berbuat, berlaku, dan bertindak. Hal ini diungkapkan oleh Rahmanto (1988:26), bahwa “pengajaran sastra akan berlangsung dengan baik apabila guru dapat memperhatikan aspek-aspek yang menjadi patokan dalam memilih bahan pengajaran, yaitu bahasa, kematangan jiwa, (psikologi), dan latar kebudayaan siswa.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu dikembangkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat diwujudkan secara insentif salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dimana guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator (King, 1993). Dalam pembelajaran kooperatif, guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan yang menjadi rujukan pembelajaran. Ada komponen yang perlu diperhatikan agar pembelajaran kooperatif bisa berjalan dengan baik. Roger dan David Johnson (dalam Lie, 2002:30), menuturkan bahwa lima komponen tersebut adalah saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, evaluasi antar kelompok.

Senada dengan itu, Slavin (1983:3) mendefinisikan pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya empat sampai lima orang dengan struktur kelompok heterogen.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah belajar kooperatif dengan siswa belajar dalam kelompok dan kerjasama saling bergantung positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Setiap anggota kelompok asal bertemu dalam kelompok ahli untuk membahas materi yang ditugaskan kepadanya. Setelah pembahasan tugas selesai kemudian materi kembali ke kelompok semula dan menjelaskan pada teman sekelompoknya untuk menggapai ketentuan materi (Hariyanto, 2000:26).
Demikian Semoga Bermanfaat.... Salam Heddy'sbloG

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Ajukan Pertanyaan Anda Disini? EmoticonEmoticon