Ketepatan Penggunaan Kata dalam Sebuah Tulisan

Selama masih ada kesenjangan antara hasil pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja, ada kesenjangan harapan akan prestasi yang ada, selama itu pula problema pendidikan senantiasa dibicarakan dan gaung tuntutan pembaharuan pendidikan akan terus bergema. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan membedah problema kependidikan: macrocosmic dan microcosmic. Macrocosmic merupakan pendekatan yang bersifat makro, dimana proses pendidikan dianalisis dalam kerangka yang lebih luas. Dalam arti proses pendidikan harus dianalisis dalam kaitannya dengan proses di bidang lain. Sebab proses pendidikan tidak bisa dipisahkan dari lingkungan, baik politik, ekonomi, agama, budaya, dan sebagainya (Zamroni, 2000: 28-29).
Ketepatan Penggunaan Kata dalam Sebuah Tulisan

Pendekatan mikrocosmic melihat pendidikan sebagai suatu kesatuan unit yang hidup dimana terdapat interaksi di dalam dirinya sendiri. Interaksi yang terjadi tersebut berupa proses belajar mengajar yang terdapat dikelas. Pendekatan ini memandang interaksi guru dan murid merupakan faktor pokok dalam pendidikan. Oleh karenanya menurut pendekatan mikro ini, perbaikan kualitas pendidikan hanya akan berhasil kalau ada perbaikan proses belajar mengajar atau perbaikan dalam bidang keguruan (Zamroni, 2000:29).

Perbaikan kualitas pendidikan dapat dilakukan dan dikembangkan dengan salah satu cara guru bertindak sebagai agen pembelajaran (learning agent). Sebagai agen pembelajaran, peran pendidik antara lain sebabagi fasiltator, motivator, pemacu, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik (Mulyasa, 2009:53).

Sebagai fasilitator, tugas guru yang paling utama adalah “to facilitate of learning”(memberi kemudahan belajar), bukan hanya menceramahi atau mengajar apalagi menghajar peserta didik, kita perlu guru yang demokratis, jujur dan terbuka, serta siap dikritik oleh peserta didiknya. Sebagai motivator, tugas guru adalah membangkitkan motivasi belajar peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Sebagai pemacu belajar, guru harus mampu melipatgandakan potensi peserta didik dan mengembangkannya sesuai dengan apresiasi dan cita-cita mereka di masa yang akan datang. Sebagai pemberi inspirasi belajar, guru harus mampu memerankan diri dan memberikan inspirasi bagi peserta didik sehingga kegiatan belajar dan pembelajaran dapat membangkitkan berbagai pemikiran, gagasan, dan ide-ide baru (Mulyasa, 2009:53-67).

Kenyataan yang dihadapi dalam proses kegiatan belajar mengajar dalam pendidikan kita, konsep learning agent hampir tidak ditemukan. Sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif selain pada peserta didik khususnya, juga pada sistem kependidikan pada umumnya. Efek negatif dari hal tersebut akan berdampak pula pada motivasi serta minat belajar peserta didik yang tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan mengolah empat keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menulis, berbicara, dan menyimak (Mulyasa, 2009:69).

Berkenaan dengan berbahasa, menulis dan berbicara merupakan sarana berkomunikasi secara lisan. Komunikasi secara tertulis, dapat menghasilkan sebuah teks, sedangkan berkomunikasi secara lisan akan menghasilkan sugesti. Namun jika kedua aspek tersebut disatukan, maka akan menghasilkan sebuah teks untuk dibacakan. Teks yang biasa untuk dibacakan yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari selain puisi adalah teks pidato.
Teks merupakan tulisan yang memiliki makna tertentu untuk suatu maksud/tujuan. Pidato merupakan kegiatan berbicara/berkomunikasi secara lisan dihadapan massa/orang banyak untuk suatu maksud dan tujuan. Jadi, teks pidato merupakan rangkaian tulisan yang memiliki makna tertentu untuk suatu maksud dan tujuan yang disampaikan secara lisan dihadapan orang banyak (Djago Tarigan, 2006: 34).

Pengertian lain diungkapkan Soenjono Dardjowidjojo (2003:97), bahwa teks pidato sebagai sarana/media komunikasi secara lisan dan tulisan tentang suatu maksud dan tujuan yang disampaikan kepada khalayak ramai. Komunikasi secara tulisan, ini ditandai dengan adanya teks yang harus dibacakan. Komunikasi secara lisan, ditandai dengan perilaku kegiatan mengeluarkan suara/bunyi-bunyi sebagai bentuk bahasa.

Contoh dalam penulisan teks pidato , tentunya harus dengan mengunakan bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang baik artinya bahasa yang komunikatif, dan bahasa yang benar artinya sesuai dengan ketata bahasaan. Pemilihan kata-kata pun menjadi penentu tujuan dan maksud dari isi teks pidato tersebut.

Mengingat bahasa dalam teks pidato harus baik dan benar, maka perlu diperhatikan ketepatan penggunaan kata. Kata adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri dengan makna yang bebas (Kosasih, 2003:114). Senada dengan hal tersebut, Finoza (2009:80) menyatakan bahwa kata satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Kata-kata yang dibentuk dengan menggabungkan huruf atau menggabungkan morfem, akan kita akui sebagai kata bila bentukan itu mempunyai makna. 

Demikian artikel tentang Ketepatan Penggunaan Kata dalam Sebuah Tulisan ini dibuat, semoga bermanfaat

Moto hari ini
"Janganlah terpengaruh terhadap apa yang Anda tidak ketahui"
Previous
Next Post »
0 Komentar

Ajukan Pertanyaan Anda Disini?